oleh

Alumnus Gontor: Mohon Jangan Benturkan NU dengan Gontor

Alumnus Pondok Modern Gontor yang juga Direktur Eksekutif KOMUNIKONTEN (Institut Media Sosial dan Diplomasi) Hariqo Wibawa Satria menyayangkan pemberitaan di salah satu media online, SuaraNasional[dot]com yang mengangkat judul, “Pimpinan Ponpes Gontor Bongkar Kesalahan Islam Nusantara”.

Berita yang diterbitkan oleh admin Ibnu Maksum pada Jumat (06/07/2018) tersebut dinilai kurang konfirmatif, kurang berimbang. Pemberitaan tersebut terkesan kurang sesuai dengan kode etik jurnalistik.

Dijelaskan Hariqo mengklarifikasi pemberitaan tersebut, bahwa sosok yang dimuat oleh media Suara Nasional bukanlah pimpinan Pondok Modern Gontor. Padahal pemberitaan tersebut telah banyak disebar dan beredar di media sosial, sehingga merasa perlu untuk diklarifikasi.

“Berita tersebut beredar di media sosial dan banyak grup percakapan online. Saya kira perlu ada informasi klarifikatif soal ini,” tegasnya, Sabtu (07/07/2018).

Dikatakan Hariqo, Gontor dan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sejak dulu saling mencintai, saling menghormati. Hal tersebut terlihat, selama 38 tahun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dinahkodai oleh alumnus Gontor.  Dijelaskan, KH. Idham Khalid yang merupakan alumnus Pondok Modern Gontor pada tahun 1942 menjadi Ketua Umum PBNU selama 28 tahun, kemudian alumnus Gontor yang lain seperti almarhum KH. Hasyim Muzadi pernah memimpin PBNU selama 10 tahun.

“Jadi mohon, jangan ada upaya membenturkan Pondok Modern Gontor dengan Nahdlatul Ulama. Karena Gontor dan NU saling mencintai. Terlihat dalam sejarah hingga saat ini,” paparnya.

Lanjut Hariqo, Gontor secara organisasi ketika memberikan masukan ataupun pandangan kritis terhadap NU pastilah dengan cara yang baik dan asik, seperti guyonan. Penyampaiannya pun, katanya lagi, secara langsung. Tegas Hariqo, tidak pernah Gontor menyampaikan pendapatnya tentang NU melalui media. Begitu halnya dengan NU dalam memberikan masukan kepada Pondok Modern Gontor.

“NU dan Gontor saling memberikan kontribusi. Warga NU banyak yang ikut terlibat mendidik dan berjasa membesarkan alumnus Gontor. Begitupula, banyak alumnus Gontor yang ikut berkiprah di NU yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini,” tambahnya.

Hariqo pun menambahkan apabila alumni Gontor mencintai NU, dan ia pun percaya NU juga mencintai Gontor. Ditekankan lagi, ia dan alumni-alumni yang lain memiliki komitmen kuat dengan Pancasila dan NKRI.

“Saya tak ada masalah dengan Islam Nusantara (NU) dan Islam Berkemajuan (Muhammadiyah), keduanya bagus,” pungkasnya.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed