oleh

Mencari Barakah Masyayikh dengan Berziarah ke Makam Syekh Abdul Kahfi

KEBUMEN, beritasantri.com – Berziarah ke makam Syekh Muhammad Ishom Al-Hasani atau yang masyhur dengan sebutan Syekh Abdul Kahfi Awal  pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Kahfi Somalangu asal Syihr Hadramaut Yaman yang juga masih keturunan dari Rasulullah SAW melalui jalur Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Hasani  menjadi rutinitas mingguan bagi para santri Ponpes Al-Kahfi Somalangu. Makam yang terletak di Lemah Lanang ini berjarak kurang lebih 1,6 Km dari komplek Doktren Al-Kahfi. Santri melaksanakan ziarah setiap hari Kamis dan Minggu, Kamis sore jadwal ziarah bagi santri putra, dan Minggu pagi santri putri.

“Kami didawuhi langsung oleh Romo KH. Affifudin Al-Hasani yang juga keturunan ke-16 dari Syekh Muhammad Ishom Al-Hasani untuk berziarah rutin setiap satu minggu sekali. Kami berharap dengan lantaran berziarah, kami akan mendapatkan barakah ilmu dari Masyayikh Ponpes Al-Kahfi,” ujar Ust. Fobingin (25), Sabtu (07/07/2018) siang.

“Selain santri banyak juga orang-orang dari luar daerah yang sengaja datang ke Lemah Lanang untuk berziarah ke makam Syekh Abdul Kahfi dengan harapan mendapatkan barokah dari Beliau,” tambahnya.

Walaupun hukum ziarah adalah sunah bagi setiap muslim, namun Ponpes Al-Kahfi mewajibkan para santrinya untuk berziarah kepada Masyayikh Al-Kahfi dengan tujuan tabarrukan (ngalap barakah) dari para masyayikh. Wajib dalam artian rutinitas di Ponpes Al-Kahfi yakni satu kali dalam seminggu.

“Kami melaksanakan ziaroh tidak hanya satu minggu sekali,tetapi juga pada saat hari-hari besar (penting) dipondok. Seperti khaul masyayikh, maulid nabi, akhir bulan ramdhan, dan hari-hari tertentu lainya,” papar Nur Hidayah (18), salah seorang santri putri.

Ziarah tidak hanya dijadikan sebagai  sarana  tabarrukan saja, tetapi juga kerap dijadikan salah satu bentuk tirakat santri untuk meraih/mencapai hajat mereka. Tidak jarang ziarah dilakukan pada malam hari secara individu maupun bersama-sama.

Rutinitas itu mereka lakukan dengan senang hati tanpa merasa lelah walaupun harus berjalan kurang lebih sejauh 1,6 km. Hal itu menjadi salah satu bukti semangat mereka dalam tholabul ‘ilmi (mencari ilmu) di Pondok Pesantren Al-kahfi Somalangu. Karena mereka sadar, untuk meraih ridho guru memerlukan tirakat dan pengorbanan yang besar. (Mufatikhatur Rofiqoh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed