oleh

POLIGAMI: Syariat Islam yang Mudah Diingkari

Oleh:
KH. Abdul Muiz Ali
(Anggota Komisi Fatwa MUI dan Pengurus Lembaga Dakwah PBNU)

Poligami dalam Islam hanya terbatas hingga empat istri bagi laki-laki. Sedangkan untuk perempuan (poliandri) haram menikah dengan laki-laki lebih dari satu sekaligus.

Kenapa Allah membedakan dalam hal ini?

Disamping sudah menjadi ketentuan dalam agama Islam yang harus kita yakini dan ditaati (QS. An-Nur : 51), juga sudah pasti ada hikmahnya; Islam tidak memerintahkan sesuatu kecuali mengandung maslahah (kebaikan) atau kebaikannya lebih dominan. Dan dalam Islam juga tidak melarang sesuatu kecuali mengandung mafsadah (keburukan) atau keburukan lebih dominan.

Jika laki-laki punya istri lebih dari satu, maka nasab anaknya tetap jelas dari satu ayah. Tapi jika perempuan diperbolehkan mempunyai suami lebih dari satu, maka nasib dan nasab anaknya akan dihubungkan kepada siapa. Padahal dalam Islam kontek nikah berkaitan erat dengan waris, wali nikah dan lain sebagainya.
Hukum poligami bagian dari ajaran Islam. Sebagai muslim yang taat tidak boleh meragukan dan menolaknya apalagi sampai menghina, melecehkan dan mengingkarinya.

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya, takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” [QS. An-Nur 24: 63].
Ayat Poligami

Poligami merupakan salah satu tema penting dalam Islam. Pembahasan ayat poligami dijelaskan secara eksplisit (shorih) dan disebut diawal dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’. Itu bertanda poligami bukan main-main dan tentu saja tidak boleh “dibuat mainan” oleh kita. Firman Allah SWT:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [An-Nisaa’/4: 3].

Ayat al-Quran yang menjelaskan tentang poligami disebut dalam QS. An-Nisa’, yang artinya Perempuan. Menurut Dr. Muhammad Ali As-Shobuni, disebut surat An–Nisa’ yang artinya perempuan, karena dalam surat tersebut banyak menyinggung beberapa hal yang berkaitan dengan perempuan atau kewajiban laki-laki terhadap perempuan. (Rawai’u Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam1/331)

Ulama bersepakat bahwa hukum asal poligami (ta’adudu Az-Zaujaat) adalah boleh (ibahah); boleh dilakukan boleh juga ditinggalkan. Ayat di atas terus berlaku dan tidak ada nasakh (hukum baru) oleh nash lain, baik dari al-Quran atau hadis. Jika ada orang masih mempersoalkan hukum boleh tidaknya berpoligami, atau tidak mempercayainya, berarti samahalnya menentang ketentuan dan ketetapan ajaran Islam.

Meletakan Hukum Poligami Pada Tempatnya

Letak kebolehan berpoligami dibatasi dengan sifat adil yang harus ditunjukan oleh suami kepada istrinya. Jika tidak bisa memberikan rasa adil, maka cukup dengan satu istri. Parameter sifat adilseseorang, antara lain dapat dilihat bagaimana cara dia memberikan porsi (menggilir) terhadap para istrinya dan saat bermu’asyarah (interaksi) dengan sesama tetangganya. Orang yang mampu bersikap adil akan mendapatkan tempat yang mulia dihari kiamat.

وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (QS Al Maidah : 42)

Memberikan rasa adil dalam hal poligami adalah kemampuan (istito’ah) suami dalam hal memberi nafkah, menemani istrinya secara baik serta menggilir para istrinya secara baik. Bukan dalam hal membagi perasaan, kasih sayang, cinta atau kecenderungan hati. Karena hal yang demikian itu tentu tidak akan mampu (ghoiru istito’ah) yang lazimnya dimiliki oleh seseorang. (Al-Fiqhu al-Islam wa Adillatuhu, IX/160).

Rincian Hukum Poligami

Hukum berpoligami adalah mubah (boleh) seperti juga dengan hukum menikah. Seorang diperkenankan (ibahah) nikah juga sekaligus boleh berpoligami. Tetapi hukum yang semula mubah akan berubah sesuai kondisi seorang. Bisa jadi berpoligami menjadi sunah, makruh atau bahkan malah menjadi haram berpoligaminya.

Jika berpoligami bertujuan ingin mendapat keturunan karena istri yang pertama sakit atau tidak bisa membuahkan keturunan (mandul), sementara kaki-laki tersebut ingin punya keturunan serta punya dugaan yang kuat mampu (dzhan al–Istito’ah) untuk bersikap adil, maka hukum berpoligami dalam contoh kondisi tersebut mandub (sunah). Hal itu dianjurkan karena ada tujuan yang dibenarkan dalam syariat Islam berupa anjuran memperbanyak keturunan. Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallamabersabda;

“Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu)”. [HR. Abu Dawud]

Banyak para sahabat Nabi yang beristri lebih dari satu.

Jika berpoligami tujuannya hanya untuk sekedar menyalurkan kesenangan dan laki-laki tersebut dari awal sudah ragu (syak) tidak akan mampu berbagi sifat adilnya kepada para istrinya, maka hukum berpoligami pada kondisi seperti ini adalah makruh. (Al-Fiqhu al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam As-Syafi’i, 4/35).

Jika dalam kondisi ragu tidak mampu berbuat adil sudah makruh, apalagi dari awal sudah yakin tidak akan mampu memberikan rasa adil, maka hukum poligami yang semula makruh (dibenci oleh Syara’) beralih menjadi haram(dilarang).
Walhasil, poligami tetap bagian dari ajaran Islam dan hukumnya tetap mempertimbangkan motif bagi orang yang mau melakukannya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed