Semaan Quran dan Dzikrul Ghofilin di Kebumen, Upaya Membumikan ‘Ulama Nusantara’

  • Whatsapp

Sebagai bagian dari pengenalan ‘ulama nusantara serta pelestarian dzikir keagamaan, Masjid Al-Mubarok Dukuh Kedompon Adikarso, Kebumen, Rabu 13 November 2019 menggelar Majelis Sema’an Al-Qur’an dan Mujahadah Dzikrul Ghofilin Tingkat Kabupaten.

Mujahadah Dzikrul Ghofilin adalah sebuah resep untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan cara berdzikir, yang disusun dan dikembangkan Kiai Hamim Jazuli atau yang masyhur dipanggil Gus Miek; salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri, Jawa Timur.

Sema’an Al-Qur’an dilaksanakan sejak pagi bada sholat subuh hingga menjelang magrib, dilanjutkan dengan Mujahadah Dzikrul Ghofilin setelah sholat isya.

Majelis Sema’an Al Qur’an yang terkenal dengan nama Jantiko Mantab, dibentuk pada tahun 1986. Sedangkan Majelis Dzikrul Ghofilin sendiri didirikan lebih awal, yaitu pada tahun 1965 dengan nama Aurot Lailiyah.

Dalam pandangan Gus Miek, sang mursyid tunggal Dzikrul Ghofilin, mujahadah murni bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, namun biasanya orang yang benar-benar menata akhiratnya urusan duniawinya akan ikut tertata. Dengan mencintai para kekasih Allah dan orang-orang sholih, melalui mujahadah Dzikrul Ghofilin, Gus Miek berharap kelak jama’ah akan dikumpulkan bersama mereka.

Mujahadah Dzikrul Ghofilin Kabupaten Kebumen saat ini diketuai oleh KH. Muntaha Mahfudz, Pengasuh PP Salafiyyah Wonoyoso. Biasanya Mujahadah Dzikrul Ghofilin di Kebumen diimami langsung oleh KH. Agus Baqoh ‘Arifin, putra Mbah Hamid Kajoran Magelang. Namun, selepas wafat beliau sementara ini dibadali oleh KH. Habibulloh, Pengasuh PP Darussalam, Adikarso.

Menurut Amir Syarifudin yang menjadi koordinator huffadz, kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap selapan sekali, yaitu setiap hari Rabu Pahing hingga malam Kamis Pon, bergilir dari masjid satu ke masjid yang lain.

“Mujahadah malam ini terasa begitu istimewa karena sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, dan bertepatan dengan peringatan 40 hari wafatnya Ibu Nyai Liliek, istri tercinta almarhum Gus Miek. Lahuma alfahihah,” tutup Amir Syarifudin.

Pos terkait