Rais Aam Harap Anak Muda NU Respons Kecanggihan Teknologi Informasi

  • Whatsapp

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H Miftachul Akhyar memberikan sambutan di kegiatan Madrasah Teknologi Informasi yang diselenggarakan oleh Lembaga Ta’lif wa Nasyr (LTN) PBNU secara virtual, Sabtu (31/10). Pada kesempatan itu, pengasuh Pesantren Miftachusunnah, Kota Surabaya tersebut berharap santri atau kelompok muda NU mampu merespons kecanggihan teknologi informasi.

Menurut Kiai Miftach, kelompok muda NU harus eksis dan mengisi setiap perkembangan dunia digital dengan maksimal. Responsif terhadap dunia digital tersebut selaras dengan apa yang telah diruaikan kitab Al-Hikam karya Ibnu Athoillah.

“Generasi NU, santri, bisa eksis di zaman-zaman ini. Dalam kitab Al-Hikam disebutkan, la tastagribil dhar ma fiha didar. Jangan kamu terkejut atau merasa aneh di dunia ini selama kamu berada di dunia ini, karena dunia memang tempatnya problematika hidup, tempatnya berbagai masalah-masalah yanga perlu dipecahkan dan saat ini terbukti,” kata Rais Aam PBNU dalam mukaddimah acara yang melibatkan 1200 peserta Madrasah Teknologi Informasi ini.

Ia menjelaskan, kitab Al-Hikam telah lebih rinci menerangkan bahwa kehidupan di dunia akan mengalami perubahan yang begitu cepat. Karena itu, sebagai pengisi dunia ini manusia utamanya santri dan kelompok muda NU harus berkiprah sesuai zamannya.

Kiai Miftach menambahkan, kelompok muda NU seperti santri tidak bisa dipandang sebelah mata. Seorang santri, katanya, memiliki dua sayap yang bisa terbang mengelilingi seluruh jagat raya ini. Dua sayap tersebut yakni ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum salah satunya teknologi informasi.

“Ilmu agama dan umum dalam hal ini menggeluti teknologi yang saat ini dikenal dengan teknologi informasi, disrupsi atau VUCA yang telah banyak mengubah wajah-wajah manusia ini,” tegas Kiai Miftach.

Untuk diketahui, kegiatan madrasah teknologi informasi digelar untuk merespons perkembangan dunia digital yang dinilai telah memberikan dampak disrupsi atau gangguan pada sektor ekonomi, bisnis, tata kehidupan, pola belajar dan sektor lain menyangkut kehidupan manusia di muka bumi.

Ketua LTN PBNU Hari Usmayadi menuturkan, dampak canggihnya teknologi informasi di Indonesia terlihat jelas pada sikap masyarakat yang tidak dapat dilepaskan dari penggunaan alat teknologi. Namun masyarakat terutama warga NU masih belum memahami apa inti perubahan dari teknologi informasi tersebut.

“Persoalan itu menyebabkan posisi manusia bak anai-anai yang terombang ambing gelombang lautan,” kata Cak Usma, sapaan akrabnya.

Ia menambahkan, kegiatan digelar untuk memberikan kesadaran kepada generasi muda NU sehingga dapat memahami disrupsi teknologi yang terus bergerak. Kemudian target yang diikhtiarkan LTN PBNU yakni kelompok muda NU dapat terlibat dalam medan perkembangan teknologi yang ada.

“Acara mengusung tema besar Tantangan NU di Era Disrupsi ini direncanakan diadakan sebanyak 15 sesi setiap dua minggu sekali dengan judul sesi yang spesifik di tiap cabang teknologi,” jelasnya.

Dia berharap, para generasi muda NU bisa mempersiapkan diri menjadi pemain di medan disrupsi teknologi tiga sampai sepuluh tahun mendatang. Jika hal itu sudah terjadi, lanjutnya, maka organisasi NU optimis dapat meraih masa depan bangsa Indonesia yang gemilang.    Cak Usma bersyukur, kegiatan itu direspons positif oleh warga NU. Katanya, sudah ada 1.200 peserta yang mendaftar ke panitia. Dia optimis apa yang dilakukan LTN PBNU dapat memberikan pengaruh yang baik untuk generasi muda NU utamanya mengenai pengetahuan teknologi informasi.

  1. Panitia membuka kegiatan ini secara umum Sesi 1 ini yakni Disrupsi Teknologi, VUCA dan Generasi Muda NU. Pembukaan sendiri akan dimulai pada Sabtu (31/10) pukul 08.00 WIB-12.00 WIB.   Kegiatan pembukaan dihadiri langsung oleh Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Deputi IV Kantor Staf Presiden (KSP) Juri Ardiantoro, Menteri Komunikasi dan Informasi Johnny G Plate dan Komisaris Utama Telkom Rhenald Kasali. Kemudian, narasumber yang memaparkan masalah disrupsi teknologi ini adalah Master of Change Management, Dadang Kadarusman.

Pos terkait