Target Sebulan Lancar Baca Kitab Gundul oleh Peserta Beasiswa Lakpesdam PCNU Kebumen

  • Whatsapp

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kebumen Gus Wahyu NH. Aly mengungkapkan target 6 (enam) bulan bagi peserta beasiswa. Dijelaskan, para peserta beasiswa PCNU Kebumen ini selama 1 (satu) semester selain mengikuti kuliah di kampus, juga akan mendapatkan 20 skill gratis tanpa dikenai biaya sepeserpun.

“Sedikitnya ada 20 skill yang akan kita berikan kepada para peserta beasiswa. Semua wajib diikuti,” tegasnya.

Dikatakan oleh cucu KH. Abdullah Siradj Aly ini, bahwa peserta beasiswa dipastikan tidak akan mengalami kesulitan dalam menerima program ini. Ia pun menjamin seluruh peserta dalam semester pertama telah menguasai semua skill tersebut. Dikarenakan, sudah diperhitungkan metode, estimasi waktu, dan potensi kemampuan peserta.

“Mereka tidak akan ada kesulitan, selama mereka mau mengikuti. Kita sudah perhitungkan semuanya, dan kita mulai dari nol,” tambahnya.

Dijelaskan lebih lanjut, kajian dilaksanakan setiap hari, mulai dari setelah Shubuh sampai jam 10 pagi. Minggu pertama, santri peserta beasiswa mengkaji tajwid dan makharijul khuruf. Sekaligus belajar menulis jurnalistik, praktik wawancara sejumpah tokoh dan pejabat di Kebumen, serta menguploadnya di media online.

“Mereka praktek wawancara langsung dengan pejabat, ulama, dan beberapa tokoh yang sudah kita tentukan. Lalu mereka menulisnya dan menguploadnya. Semua tema kita yang membuatkan,” tambahnya.

Kemudian dijelaskan Gus Wahyu, setelah selama seminggu mereka bisa membaca bahasa Arab berharokat (tajwid & makharijul huruf) dengan baik, selanjutnya selama dua bulan, semua santri peserta beasiswa dijamin sudah bisa mengharokati bahasa Arab yang tanpa harokat. Selama dua bulan mereka mempelajari nahwu, shorof dan i’lal. Sumber bukunya Al-Jurumiah dan Amtsilatut Tasrifiah, hanya saja dengan sentuhan metode ala Lakpesdam PCNU Kebumen.

“Metode baca Arab gundul ini sudah pernah dipraktikan atau diuji-cobakan. Hasilnya sesuai ekspektasi,” tegasnya.

Di minggu kedua dan ketiga, para santri program beasiswa ini belajar menghafalkan dan memahami nahwu dengan sumber buku Al-Jurumiah. Disela-sela ini, juga mempelajari desain website, desain grafis, dan penguatan wawancara ke narasumber.

“Wawancara ini tujuannya untuk membangun mental dan kemampuan komunikasi para santri kepada tokoh-tokoh,” paparnya.

Pada minggu keempat dan minggu kelima, belajar menghafalkan dan memahami tasrif. Di sela-sela ini mempelajari editing video dan digital strategis.

Lanjut Gus Wahyu menjelaskan, pada minggu keenam, ketujuh dan kedelapan, penambahan hafalan kosa-kata Arab, serta praktek membaca buku berbahasa Arab dan praktek menulis berbahasa Arab. Disela-sela itu juga belajar pidato, keaswajaan dan ke-NU-an.

Selanjutnya, pada bulan ketiga, selain terus mengasah kemampuan bahasa Arab, mereka dituntut untuk menghafalkan struktur birokrasi dari tingkat Desa hingga Kabupaten. Mulai dari eksekutif, legislatif, yudikatif, TNI, Polri.

Pada bulan keempat, dengan mereka terus mengasah bahasa Arab, mereka dikuatkan lagi hafalan dan pemahaman struktur birokrasi untuk tingkat provinsi dan nasional. Harapannya, diusia mereka yang masih muda akan memiliki cara pandang yang lebih terbuka.

“Dengan mereka hafal dan paham struktur dan fungsi dari eksekutif, legislatif, yudikatif, TNI, Polri, baik di tingkat desa sampai pusat, mereka akan lebih terbuka. Seperti menjelaskan detail di kabupetan itu Polres, Kodim, juga dinas-dinas, BUMD, jumlah komisi dì DPRD, fraksi dan seterusnya,” tambahnya.

Pada bulan kelima, kata Gus Wahyu, para santri program beasiswa akan mempelajari dan mampu membuat program kerja dalam organisasi, membuat proposal dan business plan. Selain itu, juga ada kekaryaan.

Ditegaskan Gus Wahyu, bulan keenam skill untuk leadership sekaligus evaluasi dan refreshing para santri peserta beasiswa sebelum memasuki program semester kedua. Dijelaskan, program di semester kedua dikatakan sangat mengasikan, sehingga katanya disebut juga program asik-asik. Diungkapkan, karena santri sudah menguasai dasar-dasarnya pada semester pertama.

“Intinya program di semester kedua itu program asik-asik. Doanya saja, program semester awal sesuai rencana ya,” pungkasnya.

Pos terkait